Selasa, 05 Juni 2012

16. Pengertian hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.
Ciri-ciri hikayat
a.    sebagai suatu jenis sastra, hikayat memiliki cara tersendiri dalam menampilkan realitas kehidupan
b.    sebagai sebuah karangan hikayat bermediakan bahasa Melayu
c.    berhubung pada dasarnya hal yang diungkapkan pengarang disampaikan dengan jelas menceritakan, meriwayatkan, dan mendorongkan, maka jenis karangan yang digunakan adalah narasi.
d.    dilandasi oleh adanya unsur cerita/dongeng. maka hikayat berkesan rekaan/fiksional
e.    hikayat umumnya bermotifkan keajaiban dan kesaktian.
f.    bentuk karangan yang digunakan adalah prosa
g.    isi cerita berkisar pada tokoh raja dan keluarganya (istana sentries)
Unsur intrinsik hikayat
Tokoh
    Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. Tidak ada cerita tanpa tokoh. Tokoh-tokoh dalam cerita bersifat unik, tokoh yang satu berbeda dengan yang lainnya. Tokoh lazim pula disebut pelaku cerita. Tokoh biasanya berwujud manusia, tetapi dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
    Sumardjo (dalam Wahid, 2004:76) mengatakan melalui tokoh, pembaca dapat mengikuti jalannya cerita dan mengalami berbagai pengalaman batin seperi yang dialami tokoh cerita.
Zulfahnur (1996/1997:29) menjelaskan bahwa berdasarkan fungsi penampilanya, tokoh dalam cerita dibedakan menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis, antagonis, dan trigonis. Protagonis adalah tokoh yang diharapkan berfungsi menarik simpatik dan empati pembaca. Antagonis atau tokoh lawan adalah pelaku dalam cerita yang berfungsi sebagai penantang utama dari tokoh protagonis. Tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis atau berpiihak pada antagonis atau berfungsi sebagai penengah tokoh-tokoh itu.
    Baik tokoh protagonis maupun antagonis biasanya menjadi fokus cerita. Tokoh yang menjadi fokus ini biasanya disebut tokoh utama.
Tema
Menurut Surana (2002:56) tema adalah pokok permasalahan suatu cerita yang terus menerus dibicarakan sepanjang cerita. Pengarang sendiri tidak menyebutkan apa yang menjadi latar belakang atau tema ceritanya, tetapi dapat kita ketahui setelah kita membaca cerita itu secara keseluruhan. Dengan kata lain titik tolak sebuah cerita merupakan sebuah yang tersirat bukan tersurat. Pengarang hendak menyajikan suatu cerita ialah hendak mengemukakan suatu gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari sebuah karya sastra itu yang disebut tema.
Amanat
    Amanat dapat diartikan sebagai pesan berupa ide, gagasan, ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan atau dikemukakan pengarang lewat cerita. Amanat pengarang ini dapat secara implisit dan eksplisit di dalam karya sastra implisit misalnya disiratkan dalam tingkah laku tokoh-tokoh cerita. Sedangkan eksplisit, bila dalam tengah atau akhir cerita pengarang menyampaikan pesan-pesan, nasihat pemikiran dan sebagainya (Zulfahnur, 1996:25-26).
    Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Sudjiman (1988:57) mengemukakan bahwa amanat adalah ajaran moral atau pesan yang disampaikan oleh pengarang. Sedangkan Esten (1995:91) berpendapat bahwa amanat adalah pemecahan dan jalan keluar yang diberikan pengarang didalam sebuah karya sastra terhadap semua yang dikemukakan.
    Berdasarkan pandangan tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa jika permasalahan yang diajukan dalam cerita juga diberikan jalan keluarnya oleh pengarang maka jalan keluarnya itulah yang disebut amanat.
Latar
    Unsur fiksi yang menunjukan dimana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut latar. Adapula yang menyebutkan landasan tumpu, yakni lingkungan tempat peristiwa terjadi. Latar secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian yakni latar tempat, yang berkaitan dengan geografis, latar waktu yang berkaitan dengan masalah historis dan latar sosial yang berkaitan dengan kemasyarakatan.
Abrams dalam Nurgiantoro (1995:216) mengemukakan bahwa latar adalah landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan hubungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Dapat dikatakan bahwa latar-latar tersebut sebagai ruangan atau tempat tokoh-tokoh melandaskan laku dan alasan psikologi pertumbuhan tokoh.
Menurut Sudjiman (1986:64) secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk pengacauan yang berkaitan dengan waktu ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita. Selanjutnya dijelaskan bahwa latar dapat dibedakan menjadi latar sosial dan latar fisik/ materi, kelompok sosial dan sifat, adab kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain. yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud dengan latar fisiknya, yaitu bangunan, daerah dan sebagainya. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual.
Menurut Semi (1988:46) latar dalam prosa fiksi termasuk hikayat dibedakan menjadi empat macam yaitu:
1.    Latar alam di dalamnya dilukiskan perihal lokasi atau tempat peristiwa dalam ruang alam itu.
2.    Latar waktu, yaitu latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, pada tahun berapa, pada musim apa, jam berapa, senja hari, tengah hari, malam hari, akhir bulan, dan sebagainya.
3.    Latar sosial, yaitu yang melukiskan dalam lingkungan sosial mana peristiwa itu terjadi, lingkungan para buru pabrik, lingkungan nelayan dan sebagaina.
4.    Latar ruang, yaitu latar yang melikiskan dalam ruangan yang bagaimana peristiwa itu berlangsung, didalam kamar, dalam aula dan sebagainya.
Alur
    Menurut Surana (2002:54) didalam sebuah cerita rekaan berbagai peristiwa disajikan dengan urutan tertentu. Peristiwa yang diurutkan itu membangun bidang punggung cerita yaitu alur.
Menurut Laniampe dan Sumiman (2001:35) bahwa sebuah peristiwa akan menjadi penyebab atau akibat dari peristiwa yang lain yang pada akhirnya akan berhubungan tanpa ada peristiwa yang terlepas. Hubungan antara satu peristiwa atau sekelompok peristiwa dengan peristiwa yang lain inilah yang disebut plot. Hal ini sejalan dengan pandangan Staton (Nurgiantoro, 1995:133) bahwa alur adalah cerita berisikan urutan kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan sebab akibat. Peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Karena alur dibangun berdasarkan hubungan sebab akibat, maka alur tidak dapat berdiri sendiri. Alur selalu berhubungan dengan elemen lainnya, seperti watak, tokoh, setting, tema dan konflik.
    Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa alur adalah struktur penceritaan prosa fiksi yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian peristiwa yang disusun berdasarkan hokum sebab akibat (kausalitas) serta logis.
Sudut Pandang
    Menurut Lubbock (dalam Sudjiman, 1965:75) mengatakan bahwa sudut pandang mengandung arti hubungan diantara tempat penderita berdiri dan ceritanya. Didalam atau di luar cerita. Hubungan ini ada dua macam, yaitu hubungan pencerita diaan dengan ceritanya, dan hubungan pencerita akuan dengan ceritanya. Hudson mengemukakan istilah point of view dengan arti pikiran atau pandangan pengarang yang dijalin dalam karyanya. Sudut pandang dalam kesusastraan terdiri atas:
1.    Sudut pandang fisik, yaitu posisi didalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang di dalam pendekatan materi cerita;
2.    Sudut pandang mental, yaitu perasaan sikap pengarang terhadap masalah didalam cerita;
3.    Sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih pengarang di dalam membawakan materi, sebagai orang kedua, atau orang ketiga.

Menurut Surana (2002:51) sudut pandang terbagi atas:
a.    Cara orang pertama. Pengarangnya memakai istilah “aku”atau”saya”. Dalam hal ini pengarang sendiri menjadi tokoh didalam cerita. Pengarang tidak selalu menjadi tokoh utama tetapi ia hanya memegang peranan kecil, ia hanya sekedar pencerita tentang tokoh utama.
b.    Cara orang ketiga. Disini pengarang memakai istilah “ia”atau”dia” atau memakai nama orang. Pengarang berdiri di luar pagar seolah-olah dia dalang yang menceritakan pelaku-pelakunya. Dari cara ketiga ini, pengarang dapat bersikap menceritakan apa perbuatan tokoh-tokoh dalam cerita sedang ia tidak tahu pikiran dan perasaan mereka. Sikap kedua pengarang menceritakan tokoh-tokohnya, dan mengetahui jalan perasaan dan pikiran tokoh-tokoh cerita.

Minggu, 03 Juni 2012

15. CONTOH PUISI
Misteri Cinta
Tak dapat ku mengerti Juga tak dapat ku pahami
Mungkinkah aku masih bisa menemukan cinta yang sejati..
Meski aku tak pernah lagi kau beri sebuah arti cinta yang sejati..
Tak pernah lagi mengukir kisah dalam hati yang akan terkenang hingga mati
Dan akan tetap jadi yang abadi..
Namun cinta ini seperti pecahan logam yang mengekalkan kesendirianku
yang kelam Membutakan mata, bagai memandang dalam kegelapan malam..
Bahkan membekukan hati Yang tak ada jiwa mengisi..
Keberadaan cinta dalam hidupku masih menyisakan misteri
Yang takan terungkap lagi, Bagai raga tanpa jiwa…
14. Kata Ganti atau Pronomina
Yang termasuk dalam jenis kata ini adalah segala kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan. Pembagian Tradisional menggolongkan kata-kata ini ke dalam suatu jenis kata tersendiri. Ketentuan ini tidak dapat dipertahankan dari segi structural, karena kata-kata ini sama strukturnya dengan kata-kata benda lainnya. Oleh karena itu dalam usaha mengadakan pembagian jenis kata yang baru kita akan menempatkannya dalam suatu posisi yang lain dari biasa.
Kata-kata ganti menurut sifat dan fungsinya dapat dibedakan atas:
1. Kata Ganti Orang atau Pronomina Personalia
Kata Ganti Orang dalam bahasa Indonesia adalah:
                                             Tunggal             Jamak
                       Orang   I :       aku                     kami, kita
                       Orang  II :       engkau                kamu
                       Orang III :       dia                      mereka
a. Untuk orang I
Untuk orang pertama tunggal, guna menyatakan kerendahan diri dipakai kata-kata hamba, sahaya (Sansekerta: pengiring, pengikut), patik, abdi. Sebaliknya intuk mengungkapkan suasana yang agung atau mulia maka kata kami yag sebenarnya digunakan untuk orang pertama jamak dapat dipakai pula untuk menggantikan orang pertama tunggal. Ini disebut pluralis majestatis.
b. Untuk orang II
Untuk orang kedua tunggal dipakai paduka (Sansekerta: sepatu), tuan, Yang Mulia, saudara, ibu, bapak, dan lain-lain. Semuanya itu dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang kita hadapi jauh lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kata kamu yang sebenarnya merupakan kata ganti orang kedua jamak dipakai pula sebagai pluralis majestatis untuk menggantikan orang kedua tunggal. Tetapi pada masa sekarang ini nilai keagungan itu sudah tidak terasa lagi, karena terlalu sering dipakai.
c. Untuk orang III
Untuk orang ketiga dipergunakan juga kaata-kata beliau, sedang bagi yang telah meninggal dipakai kata mendiang, almarhum atau almarhumah.
2. Kata Ganti Kepunyaan atau Pronomina Posesif
Kata ganti kepunyaan adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik: -ku, -mu, -nya, kami, kamu, mereka. Sebenarnya pembagian ini dalam bahasa Indonesia tidak diperlukan sebab yang disebut kata ganti kepunyaan itu sama saja dengan kata ganti orang dalam fungsinya sebagai pemilik. Dalam fungsinya sebagai pemilik ini, kata-kata tersebut mengambil bentuk-bentuk ringkas dan dirangkaikan saja di belakang kata-kata yang diterangkannya.
     bajuku   = baju aku
     bajumu  = baju engkau
     bajunya  = baju n + ia
Bentuk-bentuk ringkas ini yang diletakkan di belakang sebuah kata disebut enklitis . Bentuk enklitis ini dipakai juga untuk menunjukkan fungsi kata ganti orang, bila kata ganti orang itu menduduki jabatan obyek atau mengikuti suatu kata depan:
padaku, padamu, padanya, bagiku, bagimu, baginya, dan lain-lain.
Apabila bentuk-bentuk ringkas itu dirangkaikan di depan sebuah kata disebut proklitis , misalnya kupukul, kaupukul.
Di atas telah disinggung bahwa apa yang dinamakan kata ganti kepunyaan itu dalam bahasa Indonesia tidak pelu ada. Bahwa dalam bahasa Yunani-Latin terdapat konsepsi ini, hal itu sejalan dengan struktur bahasa-bahasa tersebut. Sebagai contoh, kata saya dalam bahasa Latin adalah ego dengan mengambil bermacam-macam bentuk sesuai dengan fungsinya dalam kalimat: ego, mei, mihi, me; tetapi dalam fungsinya sebagai pemilik terdapat bentuk meus, yang akan mengambil semua bentuk sebagai kata-kata sifat sesuai dengan kata benda yang diikutinya: meus, mei, meo, dan lain-lain. Jadi kata meus memiliki deklinasi tersendiri. Bahasa Indonesia tidak demikian. Dalam segala hal kata saya, misalnya, tetapi tidak berubah: saya berjalan, abang memukul saya, ia memberi sebuah buku kepada saya, ia mengambil buku saya, dan sebagainya. Kata saya dalam buku saya tidak mengurangi pengertian kita bahwa kata itu adalah pengganti orang dengan fungsi sebagai pemilik sesuatu.

13. MEDIA PEMBELAJARAN RESENSI
Bacalah cerpen Berikut!
Kemalangan Muallaf
Bulan  dan bintang  tak  dapat  memaksaku  kali  ini  untuk  mengatakan  keindahannya.  Bahkan  malam  dingin  ini  sekali  pun.  Aku  tak  mampu  mempotesnya,  kumpulan  kata  dalam  gudang  kata  telah  habis.
Entah  dari  mana   harus  memulainya.  Apakah  dari  kursi  hijau  ini?  Atau  dari  silaunya  sinar  lampu  neon.  Entahlah,  segalanya  di  mulai  dari  senja  yang  merambat  gelap.  Seiring  angin  malam  berhembus  sendu,  dari  balik  rumput  liar  jangkrik  dan  katak  kembali  bersenandung.
    Cerita berawal di  sini
“ Kemanakah  aku  harus  berlindung ?”, teriaknya  seakan  menggema  di  angkasa  yang  seakan  mengamuk.  Tapi  saying  tak  ada  jawaban, hanya  suara  angin  yang  semakin  kencang  berputar  di  udara.  “
 Bismillahirahmanirrahim…..Alhamdulillahirrabiallamin…………Waladdollin….Amiiiiiiin”.  Seketika  suara  menggema  entah  dari  mana,  perlahan  dan  sangat  perlahan  dibelahan  awan  lain nampak  Alquran  menggantung  di  langit. 
Senin,  23  mei  2009
    Mimpi  semalam  begitu  menggemparkan  seluruh  sel-sel  dalam  darah jiwa,  mengundang  Tanya,  apa  yang  harus  diperbuat?  Enam  hari  berikutnya  kejadian  semakin  nyata,  berulang  dan  terus  berulang.  Hingga  kalimat  dalam  setiap  mimpi  itu  membuat  hafal  secara  fasih.
    Ibadah  minggu  ini  berjalan  seperti  biasa,  tapi  terasa  hambar.  Kosentrasi  akhir-akhir  ini  buyar,  semua  terasa  salah,  ada yang  lain. Ibadah-ibadah  selanjutnya  membuatku  enggan  dan  semakin terasa  hampa.  Papa,  mama,  adik, dan kakak  yang  begitu  dekat  dihati,  tapi  kini  begitu  asing  dipikirkan.  Mereka  Nampak  begitu  berbeda  sejak  malam-malam  itu.  Tak  ada lagi  simbol-simbol  ketuhanan  melekat  yang  sejak  kecil  mengikat  dilehernndan  pergelangan  tangan.
Senin,  5  juli  2009
    Hari  ini,,  tepatnya  siang  ini  di  suatu  meja  disuatu  bank,  duduk  seorang  gadis  yang  entah  apa,  bekerja  tanpa  sadar. Dia  adalah  aku  yang  terus  mengerayangi  keyboard  di  depan  computer.  Tangan-tangan  terlatih  tak  putus-putusnya  melentik  dari  huruf  ke  huruf,  hingga………….
    “Lia  mau  kemana  kamu  nak?”,  tiba-tiba  suara  mama  terdengar  dan  dalam  baying  Nampak.  Natalia  kecil  berlari  menuju  rumah  meninggalkan  mama  dan  papa  yang  sedang  berbincang  diteras.
    “Hari  sudah  magrib,  ma!”,  sementara  adzan  magrib  memukul-mukul  relung  jiwa,  di dada ini,  di  dalam  kamar  begitu  jelas  suaranya,  memebuatku  tenang  sesaat.  Rasa  ini  mengingatkan  di  suatu  pagi  di hari  lebaran  dimana  takbir  bersahut-sahutan.  Menyanyikan  kesenangan  yang  asing  bagi  diri  saaat  itu.  Serta  lambaian  tangan  sepermainanku  saat  berjalan  menuju  lapangan  shalat.
    Tiba-tiba  kembali  berganti,  kabur  semua  kabur. perlahan  sebuah  kubah  Nampak  melengkung.  Seseorang  yang  sangat  ku  kenal  dalam  busana  yang  aneh,  sedang  berkata-kata  dalam  bahasa  yang  ingin  kudengar.  Di depannya  hanya  sebuah  Alquran  dan  seseorang  yang  memakai  jubah  putih,  juga  berkata-kata  dalam  bahasa  yang  ku  kenal
Apakah  itu  aku….?  Natalia ?  apakah  itu  aku  berkerusung….?  Semua  tiba-tiba  kembali  tersadar,  computer,  keyboard,  meja, dan  wajah-wajah  serius  di  depan  computer.  Apa  yang  telah  terjadi?
Kamis,  11  Juni  2009
    Kejadian  siang itu adalah jawaban mengapa aku harus berada di tempat ini.  Tempat  yang selama ini hanya  dapat terbayangkan.  Kubah  putih  berjendela  lebar, rasa sejuk  seketika  merasuk  jauh  dalam  tulang  sum-sum.  Belum  sempat  kukagumi  rasa lapang  ini, tatapan  penuh  kasih  menyambut.  Dengan  sabar  dirapikannya  peci  putih,  syal  putih,   serta  baju  koko  putihnya.  Tak  ada  Tanya  yang  keluar  dari mulutnya, dengan halus  dipersilahkannya aku masuk.  Sekan-akan akulah tamu  yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.  Dejavu  seketika  menghinggapiku, sepertinya  kejasian  ini  hanya  ulangan  dari  mimpi  siang  tadi.
    Diajaknya  aku  ke  tempat  wudhu,  dan  semua  mengalir  seperti  air  dingin diwajah  serta  telapak  tanganku  seakan  mewujudkan  mimpi-mimpi  aneh  selama  ini.  hati  sudah  bulat,  ini adalah  petujuk  meski  asing  bagiku   maupun  seluruh  keluargaku  yang tak akan  mungkin  setuju  atas  semua  ini.
    Disini aku duduk dihadapanya, melafalkan kalimat-kalimat dalamm kakuan…’Dua  Kalimat  Syahadat’  akhirnya  dapat  juga  kulafalkan  seakan  pernah  ku  ucapkan  di  kehidupan  yang  nyata.
    Tampak  dari  kejauhan  kakak  memanggil  dengan  penuh  kemarahan,  serentak  kai  gelisah  dan  tergesah  menghambur  ke  pintu  membawa  pulang  kerudung  pemberian  yang  mereka  sebut  sebagai ‘ mukkenah’.  Berlari  hingga  bersembunyi  dalam  kamar  kos  yang  berukuran 4x6  meter.  Di  sinilah  tempatku  sembunyi  dari  kehidupan  yang  tak  lagi  kujalani  oleh kaki-kaki  keinsyafan  serta  tempat  menyamaikan  benih-benih  doa  juga kesolekan.
Rabu, 14 april  2010   
    Akibat  dari  penyimpangan  yang  ku lakukan   sebutan  dari  mama  dari  apa  yang  telah  ku  lakukan.  Namun  bagiku  pertobatan  yang  ku  lakukan.  Hari-hari  yang  telah  ku  pilih  tak  mudah  untu  ku  lewati.  Dunia  seakan  gelap,  tak  ada  belaian  mama,  teguran  papa  atau  canda  tawa  dari  adik-kakakku.  Mereka  mengisolasi  ruang  gerakku  dengan  sedapat  mungkin  menghilang  dari  hadapanku  yang  baru.  Telepon  tak  pernah  dijawab,  bahkan nomor  ponsel pun  diganti.  Dan  yang  paling  menyakitkan  keluarga  yang  lain  tak  ada  lagi  yang  mau  kenal.  Teringat  kata  mereka  “siapa ya?  Aku tak  kenal!!” ,  saat  berpapasan  di  tempat  aku  bekerja.  Membuat  jiwa  semakin  kecil  dihadapan-NYA,  tak  terasa  air  mata  jatuh  mengenang  dalam  sajadah  panjang.
    Malam-malam  hanya  berganti  malam,  hanya shalat  pengobat  rindu  pada mama,  papa,  kakak  maupun  adik.  Di saat  rindu  merekah  dan berbuah  tangis,  tahajjud  adalah  pelipur  segalanya.  Hingga  adzan  subuh  memanggil.
A
12.Wacana
Wacana diartikan secara sederhana oleh Poerwadarminta sebagai ucapan, percakapan. Harimurti Kridalaksana dalam kamus linguistik, wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1983). Waccana itu sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara secara teratur, sistematis dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
     Berdasarkan pengertian wacana, ciri-ciri dan sifat wacana dapat dibedakan sebagai berikut:
1.    Wacana dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur,
2.    Wacana mengungkapkan suatu hal (subjek),
3.    Penyajiannya teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya,
4.    Wacana memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu,
5.    Wacana dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental
Berdasarkan analisisnya, ciri-ciri dan sifat wacana adalah sebagai berikut:
1)    Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat (rule of use-menurut Widdowson),
2)    Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks dan situasi (Firth),
3)    Analisis wacana   pemahaman rangkaian tuturam melalui interpretasi semantik (Beller),
4)    Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (Labor),
5)    Analisis wacana diarahkan pada masalah memakai bahasa fungsional (Coulthard)
Ciri-ciri dasar lain
1.    Analisis wacana bersifat interpretasi pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya,
2.    Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap kontteks dan pengetahuan yang luas,
3.    Semua unsur yang terkandung di dalam wacana di analisis sebagai suatu rangkaian,
4.    Wujud bahasa dalam itu lebih jelas karena di dukung oleh situasi yang tepat,
5.    Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan dan lain-lain.
Wujud dan jenis wacana
    Segi realitas
    Sebagai media komunikasi
    Segi penyusunan
•    Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau III) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.
•    Wacana prosedural adalah rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya karena urgensi unsur yang lebih dahulu menjadi landasan unsur yang berikutnya.
•    Wacana hortatorik adalah tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasehat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan atau agar lebih menyakinkan, sedangkan tokoh penting di dalamnya adalah orang II.
•    Wacana eksporitorik adalah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Tujuannya adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekedar ebuaha pernyataan yang bersifat global atau umum.
•    Wacana deskriptip adalah rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.
Konteks wacana
1.    Latar
2.    Peserta
3.    Hasil
4.    Amanat
5.    Cara
6.    Sarana
7.    Norma
8.    Jenis
11. KOLOPE, MAKANAN UNIK KHAS MUNA

Muna merupakan salah satu pulau yang ada di Sulawesi Tenggara yang memiliki banyak kebudayaan, cerita dan lain sebagainya. Di Muna, juga  memiliki makanan khas tradisional di antaranya, kambuse, ubi jalar, umbi keladi, umbi talas, kabuto dan kolope. Di antara makanan khas ini, kolope merupakan makanan yang sangat unik. Terutama pada proses pengolahan sebelum menjadi bahan makanan.
Kolope merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian yang memiliki daun yang lebar, batangnya yang berduri dan umbinya besar berbulu. Bagi orang tua, kolope merupakan makanan pokok sehari-hari. Menghadapi krisis moneter dan jenis makanan apalagi jajanan, kolope bisa juga dijadikan sebagai makanan ringan teman bicara yakni kerupuk manis kolope.
Keunikan kolope, dapat dilihat berdasarkan  cerita  secara turun temurun,  kolope (ubi gadung) pernah mengeluarkan kutukan bahwa “Andai akan ada manusia yang memerlukan untuk memakanku, demi langit, ia akan mati berkeping-keping, ia akan muntah, dan mulutnya akan berbuih. Kecuali kalau dia harus bersusah payah terlebih dahulu, menggaliku, mengupas kulitku, dan mengiris tipis-tipis dagingku. Lalu, menjemur, merendam, dan menginjak-injakku di dalam air mengalir selama empat hari empat malam. Niscaya, jika aku tidak diperlakukan demikian, aku tidak pernah bisa dimakan oleh manusia.”
Sehabis berkata demikian, tanpa pamit, kolope langsung berdiri dan pergi. Sejak saat itulah kolope tidak lagi tinggal di dalam kebun manusia. Ia hidup di hutan. Apabila ada orang yang memakannya pasti ia akan muntah-muntah dan kemudian mati. Dari cerita inilah maka kolope memiliki beberapa tahap pengolahan sebelum dimakan, sebagaimana kutukan dalam cerita di atas, kecuali kalau ia dikerjai dulu, direndam, diinjak-injak dalam air kali yang mengalir, dan di jemur, barulah ia dapat di makan. Di sinilah awal para orang tua terdahulu mempercayai bahwa kolope tidak dapat diolah langsung menjadi bahan makanan seperti beras atau jagung dan jenis umbi-umbian lainnya. Setelah dikerjai, direndam, dan diinjak-injak dalam air kali kemudian dijemur selama empat hari empat malam, kolope bisa dikonsumsi.
Memasak kolope terlebih dahulu dikukus dan diberi kelapa parut. Kelapa parut dipercaya dapat menghilangkan zat yang memabukkan pada kolope. Jika tidak bagus cara memasaknya, dalam artian tidak masak dengan baik, maka ada kemungkinan akan muncul efek mabuk pada orang yang mengonsumsi kolope tersebut. Zat memabukkan inilah yang ditakuti para konsumen kolope. Namun demikian, kolope tetap merupakan makanan yang enak, terlebih lagi jika dimakan dengan lauk kansialo ( ikan kering ) dan sayur bening.






10. CONTOH RPP DAN BAHAN AJAR

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SEKOLAH             : SMA Kartika Kendari
MATA PELAJARAN    : Bahasa Indonesia
KELAS             : X
SEMESTER             : 1
ALOKASI WAKTU        : 2 x 45 Menit

STANDAR KOMPETENSI
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
KOMPETENSI DASAR
Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
INDIKATOR
    Kognitif
    Proses
    Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
    Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan  rima dari puisi lama
    Produk
    Membedakan jenis puisi lama
    Menemukan bait, rima, dan irama di dalam  puisi lama

    Psikomotor
    Mampu menulis puisi lama

    Afektif
    Karakter
    Teliti
    Tekun

    Keterampilan sosial
    Mampu membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman
TUJUAN PEMBELAJARAN
    Kognitif
    Proses
    Setelah menulis puisi lama siswa diharapkan  mampu:
    Mengidentifikasi jenis puisi lama
    Mengidentifikasi banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama

    Produk
    Setelah menulis puisi lama, siswa diharapkan  mampu:
    Menentukan jenis puisi lama
    Menentukan banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama

    Psikomotor
    Setelah mempelajari dan berlatih menguasai hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan mampu:
    Menuliskan puisi lama
    Membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman

    Afektif
    Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti ketelitian dan ketekunan.
    Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kemampuan menuliskan puisi lama dan keterampilan menyampaikan hasil tulisan dengan bahasa yang baik dan benar di hadapan teman-teman.

MATERI PEMBELAJARAN
    Membedakan jenis-jenis puisi lama
    Mennetukan bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
    Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual
    Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit)
    Metode pembelajaran
    Unjuk kerja
    Penugasan

BAHAN
    Lembar kerja
    Spidol

ALAT
    Teks Puisi Lama

SKENARIO  PEMBELAJARAN
NO    Kegiatan    Penilaian Pengamat
        1    2    3    4
Pertemuan I
A1    Kegiatan awal (10 menit)
    Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
    Guru memberi motivasi kepada siswa.
    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
    Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang hal-hal pokok, hal menarin, dan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen.               
   
Kegiatan inti (25 menit)
    Siswa secara bersama-sama membaca materi tentang puisi lama.
    Guru memberi penjelasan tentang materi  yang telah ditentukan.
    Siswa membaca contoh puisi lama.
    Secara individu siswa menuliskan contoh puisi lama.
    Tiap-tiap siswa bersiap untuk membacakan puisi lama yang telah dituliskannya.
    Siswa lain mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh temannya.               
C1    Kegiatan akhir (10 menit)
    Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini.
    Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
    Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.               

SUMBER PEMBELAJARAN
    Buku: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X
    Materi Esensial Bahasa Indonesia
    Silabus

EVALUASI DAN PENILAIAN
    Evaluasi
    Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam menggarap tugas.
    Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengamatan unjuk keterampilan.

    Penilaian
    Tugas Individu

LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.





Oleh:

LKS 1:                              LEMBAR KERJA SISWA                   Bahasa Indonesia
Nama…………………….       Kelompok………………     Tanggal……………….
Kegiatan 1

    Sebutkan jenis-jenis puisi lama yang kamu ketahui!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

    Sebutkan ciri-ciri dari puisi lama yang kamu kemukakan diatas!
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….   

LKS 2:                              LEMBAR KERJA SISWA       Bahasa Indonesia
Nama…………………….       Kelompok………………     Tanggal……………….
Kegiatan 2

    Tuliskanlah lima contoh pantun, kemudian identifikasi banyak bait, jenis rima dan irama dari pantun yang kamu buat!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.





Oleh:







Hakikat Puisi Lama
    Puisi adalah ungkapan imajinatif yang dirangkai dengan irama dan memperhatikan pemaknaan. Jauh sebelum kita mengenal puisi komtemporer masa kini, dulu puisi telah banyak dibuat dengan berbagai bentuk dan kaidah, yaitu puisi lama. Puisi lama berbeda dengan puisi baru. Menurut Alisjahbana puisi lama adalah bagian dari kebudayaan lama yang dipancarkan oleh masyarakat lama.
Bentuk-bentuk puisi lama:
    Syair, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu bait. Baris pertama hingga terakhir pada syair berima a-a-a-a.
Contoh:
Sengsara gerangan takdirnya untung (a)
Sebagai nasib si bunga betung (a)
Hanyut di sungai terkatung-katung (a)
Diejekkan kera dan lutung (a)
    2. Karmina, yakni sajak yang terdiri atas dua baris saja. Umumnya berisi sindiran atau gurauan.
         Contoh:
Kayu lurus dalam ladang
Kerbau kurus banyak tulang
    3. Pantun, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu baitnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris yang ketiga dan keempat adalah isi. Pantun menggunakan rima a-b-a-b. Pantun memiliki banyak jenis, seperti pantun berkasih-kasihan, pantun jenaka, pantun agama, pantun perdagangan, pantun berduka, dan lain-lain.
    4. Talibun, sebenarnya dapat dikategorikan dengan pantun, jika pantun hanya terdiri dari empat baris, talibun memiliki lebih dari empat baris.
    5. Gurindam, yaitu puisi lama yang isi dan temanya tak berbeda dengan pantun, karena kebanyakan berisi nasihat dan mendidik.

Bait, Irama, dan Rima
1. Bait
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bait adalah satu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Fungsi bait adalah membagi puisi menjadi bab-bab pendek.
2. Irama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2003: 442), irama adalah alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi.
3. Rima
Rima adalah persamaan atau perulangan bunyi (Wiyanto, 2005: 29).
Jenis-Jenis Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
    Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
    Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
    Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
    Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
    Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
    Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
    Seloka adalah pantun berkait.
    Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
    Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
    Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris




LEMBAR PENILAIAN
(LP)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.




Oleh:





LP 1 : KOGNITIF PROSES

Pedoman Penskoran LKS 1
No    Komponen    Deskriptor    Skor
            1    2    3
1    Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
   
Siswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
           
2   
Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
    Siswa mampu mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama           

Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100

LP 2 : KOGNITIF PRODUK

Pedoman Penskoran LKS 2
No    Komponen    Deskriptor    Skor
            1    2    3
1    Menentukan jenis-jenis puisi lama
   
Siswa mampu menentukan jenis-jenis puisi lama
           
2   
Menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
    Siswa mampu menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama           

Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100

LP 3 : PSIKOMOTOR
Pedoman Penskoran LKS 2
No    Komponen    Deskriptor    Skor    Catatan
1   

Menuliskan puisi lama
   
Siswa mampu menulis beberapa jenis puisi lama
    3

2

1   
2   
Mampu membacakan puisi yang dibuat dengan kriteria:

    Suara




    Lafal




    Intonasi   




    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas  


    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas  


    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas       




3
2
1


3
2
1


3
2
1   

Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat

    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100


LP 4 : AFEKTIF (KARAKTER)
No    Karakter    Skor Total
    Tanggung Jawab    Disiplin    Ketekunan    Kreatif    Kritis   
1    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
2    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
3    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
5    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
6    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
7    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
8    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
9    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
10    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
11    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
12    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
13    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
14    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
15    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
16    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
17    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
18    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
19    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
20    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
21    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
22    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
23    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
24    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
25    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
26    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
27    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
28    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
29    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
30    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
31    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
32    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
33    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
34    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
35    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
36    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
37    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
38    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
39    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
40    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
Keterangan
4    = sangat baik        2    = kurang baik
3    = baik            1    = tidak baik

LP 5 : AFEKTIF (KECAKAPAN SOSIAL)
No    Karakter    Skor Total
    Inisiatif    Berbahasa Santun dan Komunikatif    Partisipasi   
1    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
2    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
3    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
5    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
6    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
7    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
8    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
9    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
10    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
11    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
12    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
13    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
14    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
15    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
16    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
17    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
18    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
19    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
20    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
21    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
22    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
23    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
24    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
25    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
…               

Keterangan
4    = sangat baik        2    = kurang baik
3    = baik            1    = tidak baik


Kendari,13 Desember 2011
Mengetahui,                                         
Guru Pamong                                    Mahasiswa KKP-PPL

Nur Niati, S.Pd                                    Eka Cahyowati
                         Menyetujui,
                    Kepala Sekolah

Drs. H. N.P Dahlan