16. Pengertian hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.
Ciri-ciri hikayat
a. sebagai suatu jenis sastra, hikayat memiliki cara tersendiri dalam menampilkan realitas kehidupan
b. sebagai sebuah karangan hikayat bermediakan bahasa Melayu
c. berhubung pada dasarnya hal yang diungkapkan pengarang disampaikan dengan jelas menceritakan, meriwayatkan, dan mendorongkan, maka jenis karangan yang digunakan adalah narasi.
d. dilandasi oleh adanya unsur cerita/dongeng. maka hikayat berkesan rekaan/fiksional
e. hikayat umumnya bermotifkan keajaiban dan kesaktian.
f. bentuk karangan yang digunakan adalah prosa
g. isi cerita berkisar pada tokoh raja dan keluarganya (istana sentries)
Unsur intrinsik hikayat
Tokoh
Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. Tidak ada cerita tanpa tokoh. Tokoh-tokoh dalam cerita bersifat unik, tokoh yang satu berbeda dengan yang lainnya. Tokoh lazim pula disebut pelaku cerita. Tokoh biasanya berwujud manusia, tetapi dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Sumardjo (dalam Wahid, 2004:76) mengatakan melalui tokoh, pembaca dapat mengikuti jalannya cerita dan mengalami berbagai pengalaman batin seperi yang dialami tokoh cerita.
Zulfahnur (1996/1997:29) menjelaskan bahwa berdasarkan fungsi penampilanya, tokoh dalam cerita dibedakan menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis, antagonis, dan trigonis. Protagonis adalah tokoh yang diharapkan berfungsi menarik simpatik dan empati pembaca. Antagonis atau tokoh lawan adalah pelaku dalam cerita yang berfungsi sebagai penantang utama dari tokoh protagonis. Tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis atau berpiihak pada antagonis atau berfungsi sebagai penengah tokoh-tokoh itu.
Baik tokoh protagonis maupun antagonis biasanya menjadi fokus cerita. Tokoh yang menjadi fokus ini biasanya disebut tokoh utama.
Tema
Menurut Surana (2002:56) tema adalah pokok permasalahan suatu cerita yang terus menerus dibicarakan sepanjang cerita. Pengarang sendiri tidak menyebutkan apa yang menjadi latar belakang atau tema ceritanya, tetapi dapat kita ketahui setelah kita membaca cerita itu secara keseluruhan. Dengan kata lain titik tolak sebuah cerita merupakan sebuah yang tersirat bukan tersurat. Pengarang hendak menyajikan suatu cerita ialah hendak mengemukakan suatu gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari sebuah karya sastra itu yang disebut tema.
Amanat
Amanat dapat diartikan sebagai pesan berupa ide, gagasan, ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan atau dikemukakan pengarang lewat cerita. Amanat pengarang ini dapat secara implisit dan eksplisit di dalam karya sastra implisit misalnya disiratkan dalam tingkah laku tokoh-tokoh cerita. Sedangkan eksplisit, bila dalam tengah atau akhir cerita pengarang menyampaikan pesan-pesan, nasihat pemikiran dan sebagainya (Zulfahnur, 1996:25-26).
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Sudjiman (1988:57) mengemukakan bahwa amanat adalah ajaran moral atau pesan yang disampaikan oleh pengarang. Sedangkan Esten (1995:91) berpendapat bahwa amanat adalah pemecahan dan jalan keluar yang diberikan pengarang didalam sebuah karya sastra terhadap semua yang dikemukakan.
Berdasarkan pandangan tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa jika permasalahan yang diajukan dalam cerita juga diberikan jalan keluarnya oleh pengarang maka jalan keluarnya itulah yang disebut amanat.
Latar
Unsur fiksi yang menunjukan dimana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut latar. Adapula yang menyebutkan landasan tumpu, yakni lingkungan tempat peristiwa terjadi. Latar secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian yakni latar tempat, yang berkaitan dengan geografis, latar waktu yang berkaitan dengan masalah historis dan latar sosial yang berkaitan dengan kemasyarakatan.
Abrams dalam Nurgiantoro (1995:216) mengemukakan bahwa latar adalah landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan hubungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Dapat dikatakan bahwa latar-latar tersebut sebagai ruangan atau tempat tokoh-tokoh melandaskan laku dan alasan psikologi pertumbuhan tokoh.
Menurut Sudjiman (1986:64) secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk pengacauan yang berkaitan dengan waktu ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita. Selanjutnya dijelaskan bahwa latar dapat dibedakan menjadi latar sosial dan latar fisik/ materi, kelompok sosial dan sifat, adab kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain. yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud dengan latar fisiknya, yaitu bangunan, daerah dan sebagainya. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual.
Menurut Semi (1988:46) latar dalam prosa fiksi termasuk hikayat dibedakan menjadi empat macam yaitu:
1. Latar alam di dalamnya dilukiskan perihal lokasi atau tempat peristiwa dalam ruang alam itu.
2. Latar waktu, yaitu latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, pada tahun berapa, pada musim apa, jam berapa, senja hari, tengah hari, malam hari, akhir bulan, dan sebagainya.
3. Latar sosial, yaitu yang melukiskan dalam lingkungan sosial mana peristiwa itu terjadi, lingkungan para buru pabrik, lingkungan nelayan dan sebagaina.
4. Latar ruang, yaitu latar yang melikiskan dalam ruangan yang bagaimana peristiwa itu berlangsung, didalam kamar, dalam aula dan sebagainya.
Alur
Menurut Surana (2002:54) didalam sebuah cerita rekaan berbagai peristiwa disajikan dengan urutan tertentu. Peristiwa yang diurutkan itu membangun bidang punggung cerita yaitu alur.
Menurut Laniampe dan Sumiman (2001:35) bahwa sebuah peristiwa akan menjadi penyebab atau akibat dari peristiwa yang lain yang pada akhirnya akan berhubungan tanpa ada peristiwa yang terlepas. Hubungan antara satu peristiwa atau sekelompok peristiwa dengan peristiwa yang lain inilah yang disebut plot. Hal ini sejalan dengan pandangan Staton (Nurgiantoro, 1995:133) bahwa alur adalah cerita berisikan urutan kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan sebab akibat. Peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Karena alur dibangun berdasarkan hubungan sebab akibat, maka alur tidak dapat berdiri sendiri. Alur selalu berhubungan dengan elemen lainnya, seperti watak, tokoh, setting, tema dan konflik.
Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa alur adalah struktur penceritaan prosa fiksi yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian peristiwa yang disusun berdasarkan hokum sebab akibat (kausalitas) serta logis.
Sudut Pandang
Menurut Lubbock (dalam Sudjiman, 1965:75) mengatakan bahwa sudut pandang mengandung arti hubungan diantara tempat penderita berdiri dan ceritanya. Didalam atau di luar cerita. Hubungan ini ada dua macam, yaitu hubungan pencerita diaan dengan ceritanya, dan hubungan pencerita akuan dengan ceritanya. Hudson mengemukakan istilah point of view dengan arti pikiran atau pandangan pengarang yang dijalin dalam karyanya. Sudut pandang dalam kesusastraan terdiri atas:
1. Sudut pandang fisik, yaitu posisi didalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang di dalam pendekatan materi cerita;
2. Sudut pandang mental, yaitu perasaan sikap pengarang terhadap masalah didalam cerita;
3. Sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih pengarang di dalam membawakan materi, sebagai orang kedua, atau orang ketiga.
Menurut Surana (2002:51) sudut pandang terbagi atas:
a. Cara orang pertama. Pengarangnya memakai istilah “aku”atau”saya”. Dalam hal ini pengarang sendiri menjadi tokoh didalam cerita. Pengarang tidak selalu menjadi tokoh utama tetapi ia hanya memegang peranan kecil, ia hanya sekedar pencerita tentang tokoh utama.
b. Cara orang ketiga. Disini pengarang memakai istilah “ia”atau”dia” atau memakai nama orang. Pengarang berdiri di luar pagar seolah-olah dia dalang yang menceritakan pelaku-pelakunya. Dari cara ketiga ini, pengarang dapat bersikap menceritakan apa perbuatan tokoh-tokoh dalam cerita sedang ia tidak tahu pikiran dan perasaan mereka. Sikap kedua pengarang menceritakan tokoh-tokohnya, dan mengetahui jalan perasaan dan pikiran tokoh-tokoh cerita.
Selasa, 05 Juni 2012
Minggu, 03 Juni 2012
15. CONTOH PUISI
Misteri Cinta
Tak dapat ku mengerti Juga tak dapat ku pahami
Mungkinkah aku masih bisa menemukan cinta yang sejati..
Meski aku tak pernah lagi kau beri sebuah arti cinta yang sejati..
Tak pernah lagi mengukir kisah dalam hati yang akan terkenang hingga mati
Dan akan tetap jadi yang abadi..
Namun cinta ini seperti pecahan logam yang mengekalkan kesendirianku
yang kelam Membutakan mata, bagai memandang dalam kegelapan malam..
Bahkan membekukan hati Yang tak ada jiwa mengisi..
Keberadaan cinta dalam hidupku masih menyisakan misteri
Yang takan terungkap lagi, Bagai raga tanpa jiwa…
Misteri Cinta
Tak dapat ku mengerti Juga tak dapat ku pahami
Mungkinkah aku masih bisa menemukan cinta yang sejati..
Meski aku tak pernah lagi kau beri sebuah arti cinta yang sejati..
Tak pernah lagi mengukir kisah dalam hati yang akan terkenang hingga mati
Dan akan tetap jadi yang abadi..
Namun cinta ini seperti pecahan logam yang mengekalkan kesendirianku
yang kelam Membutakan mata, bagai memandang dalam kegelapan malam..
Bahkan membekukan hati Yang tak ada jiwa mengisi..
Keberadaan cinta dalam hidupku masih menyisakan misteri
Yang takan terungkap lagi, Bagai raga tanpa jiwa…
14. Kata Ganti atau Pronomina
Yang termasuk dalam jenis kata ini adalah segala kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan. Pembagian Tradisional menggolongkan kata-kata ini ke dalam suatu jenis kata tersendiri. Ketentuan ini tidak dapat dipertahankan dari segi structural, karena kata-kata ini sama strukturnya dengan kata-kata benda lainnya. Oleh karena itu dalam usaha mengadakan pembagian jenis kata yang baru kita akan menempatkannya dalam suatu posisi yang lain dari biasa.
Kata-kata ganti menurut sifat dan fungsinya dapat dibedakan atas:
1. Kata Ganti Orang atau Pronomina Personalia
Kata Ganti Orang dalam bahasa Indonesia adalah:
Tunggal Jamak
Orang I : aku kami, kita
Orang II : engkau kamu
Orang III : dia mereka
a. Untuk orang I
Untuk orang pertama tunggal, guna menyatakan kerendahan diri dipakai kata-kata hamba, sahaya (Sansekerta: pengiring, pengikut), patik, abdi. Sebaliknya intuk mengungkapkan suasana yang agung atau mulia maka kata kami yag sebenarnya digunakan untuk orang pertama jamak dapat dipakai pula untuk menggantikan orang pertama tunggal. Ini disebut pluralis majestatis.
b. Untuk orang II
Untuk orang kedua tunggal dipakai paduka (Sansekerta: sepatu), tuan, Yang Mulia, saudara, ibu, bapak, dan lain-lain. Semuanya itu dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang kita hadapi jauh lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kata kamu yang sebenarnya merupakan kata ganti orang kedua jamak dipakai pula sebagai pluralis majestatis untuk menggantikan orang kedua tunggal. Tetapi pada masa sekarang ini nilai keagungan itu sudah tidak terasa lagi, karena terlalu sering dipakai.
c. Untuk orang III
Untuk orang ketiga dipergunakan juga kaata-kata beliau, sedang bagi yang telah meninggal dipakai kata mendiang, almarhum atau almarhumah.
2. Kata Ganti Kepunyaan atau Pronomina Posesif
Kata ganti kepunyaan adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik: -ku, -mu, -nya, kami, kamu, mereka. Sebenarnya pembagian ini dalam bahasa Indonesia tidak diperlukan sebab yang disebut kata ganti kepunyaan itu sama saja dengan kata ganti orang dalam fungsinya sebagai pemilik. Dalam fungsinya sebagai pemilik ini, kata-kata tersebut mengambil bentuk-bentuk ringkas dan dirangkaikan saja di belakang kata-kata yang diterangkannya.
bajuku = baju aku
bajumu = baju engkau
bajunya = baju n + ia
Bentuk-bentuk ringkas ini yang diletakkan di belakang sebuah kata disebut enklitis . Bentuk enklitis ini dipakai juga untuk menunjukkan fungsi kata ganti orang, bila kata ganti orang itu menduduki jabatan obyek atau mengikuti suatu kata depan:
padaku, padamu, padanya, bagiku, bagimu, baginya, dan lain-lain.
Apabila bentuk-bentuk ringkas itu dirangkaikan di depan sebuah kata disebut proklitis , misalnya kupukul, kaupukul.
Di atas telah disinggung bahwa apa yang dinamakan kata ganti kepunyaan itu dalam bahasa Indonesia tidak pelu ada. Bahwa dalam bahasa Yunani-Latin terdapat konsepsi ini, hal itu sejalan dengan struktur bahasa-bahasa tersebut. Sebagai contoh, kata saya dalam bahasa Latin adalah ego dengan mengambil bermacam-macam bentuk sesuai dengan fungsinya dalam kalimat: ego, mei, mihi, me; tetapi dalam fungsinya sebagai pemilik terdapat bentuk meus, yang akan mengambil semua bentuk sebagai kata-kata sifat sesuai dengan kata benda yang diikutinya: meus, mei, meo, dan lain-lain. Jadi kata meus memiliki deklinasi tersendiri. Bahasa Indonesia tidak demikian. Dalam segala hal kata saya, misalnya, tetapi tidak berubah: saya berjalan, abang memukul saya, ia memberi sebuah buku kepada saya, ia mengambil buku saya, dan sebagainya. Kata saya dalam buku saya tidak mengurangi pengertian kita bahwa kata itu adalah pengganti orang dengan fungsi sebagai pemilik sesuatu.
Yang termasuk dalam jenis kata ini adalah segala kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan. Pembagian Tradisional menggolongkan kata-kata ini ke dalam suatu jenis kata tersendiri. Ketentuan ini tidak dapat dipertahankan dari segi structural, karena kata-kata ini sama strukturnya dengan kata-kata benda lainnya. Oleh karena itu dalam usaha mengadakan pembagian jenis kata yang baru kita akan menempatkannya dalam suatu posisi yang lain dari biasa.
Kata-kata ganti menurut sifat dan fungsinya dapat dibedakan atas:
1. Kata Ganti Orang atau Pronomina Personalia
Kata Ganti Orang dalam bahasa Indonesia adalah:
Tunggal Jamak
Orang I : aku kami, kita
Orang II : engkau kamu
Orang III : dia mereka
a. Untuk orang I
Untuk orang pertama tunggal, guna menyatakan kerendahan diri dipakai kata-kata hamba, sahaya (Sansekerta: pengiring, pengikut), patik, abdi. Sebaliknya intuk mengungkapkan suasana yang agung atau mulia maka kata kami yag sebenarnya digunakan untuk orang pertama jamak dapat dipakai pula untuk menggantikan orang pertama tunggal. Ini disebut pluralis majestatis.
b. Untuk orang II
Untuk orang kedua tunggal dipakai paduka (Sansekerta: sepatu), tuan, Yang Mulia, saudara, ibu, bapak, dan lain-lain. Semuanya itu dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang kita hadapi jauh lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kata kamu yang sebenarnya merupakan kata ganti orang kedua jamak dipakai pula sebagai pluralis majestatis untuk menggantikan orang kedua tunggal. Tetapi pada masa sekarang ini nilai keagungan itu sudah tidak terasa lagi, karena terlalu sering dipakai.
c. Untuk orang III
Untuk orang ketiga dipergunakan juga kaata-kata beliau, sedang bagi yang telah meninggal dipakai kata mendiang, almarhum atau almarhumah.
2. Kata Ganti Kepunyaan atau Pronomina Posesif
Kata ganti kepunyaan adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik: -ku, -mu, -nya, kami, kamu, mereka. Sebenarnya pembagian ini dalam bahasa Indonesia tidak diperlukan sebab yang disebut kata ganti kepunyaan itu sama saja dengan kata ganti orang dalam fungsinya sebagai pemilik. Dalam fungsinya sebagai pemilik ini, kata-kata tersebut mengambil bentuk-bentuk ringkas dan dirangkaikan saja di belakang kata-kata yang diterangkannya.
bajuku = baju aku
bajumu = baju engkau
bajunya = baju n + ia
Bentuk-bentuk ringkas ini yang diletakkan di belakang sebuah kata disebut enklitis . Bentuk enklitis ini dipakai juga untuk menunjukkan fungsi kata ganti orang, bila kata ganti orang itu menduduki jabatan obyek atau mengikuti suatu kata depan:
padaku, padamu, padanya, bagiku, bagimu, baginya, dan lain-lain.
Apabila bentuk-bentuk ringkas itu dirangkaikan di depan sebuah kata disebut proklitis , misalnya kupukul, kaupukul.
Di atas telah disinggung bahwa apa yang dinamakan kata ganti kepunyaan itu dalam bahasa Indonesia tidak pelu ada. Bahwa dalam bahasa Yunani-Latin terdapat konsepsi ini, hal itu sejalan dengan struktur bahasa-bahasa tersebut. Sebagai contoh, kata saya dalam bahasa Latin adalah ego dengan mengambil bermacam-macam bentuk sesuai dengan fungsinya dalam kalimat: ego, mei, mihi, me; tetapi dalam fungsinya sebagai pemilik terdapat bentuk meus, yang akan mengambil semua bentuk sebagai kata-kata sifat sesuai dengan kata benda yang diikutinya: meus, mei, meo, dan lain-lain. Jadi kata meus memiliki deklinasi tersendiri. Bahasa Indonesia tidak demikian. Dalam segala hal kata saya, misalnya, tetapi tidak berubah: saya berjalan, abang memukul saya, ia memberi sebuah buku kepada saya, ia mengambil buku saya, dan sebagainya. Kata saya dalam buku saya tidak mengurangi pengertian kita bahwa kata itu adalah pengganti orang dengan fungsi sebagai pemilik sesuatu.
13. MEDIA PEMBELAJARAN RESENSI
Bacalah cerpen Berikut!
Kemalangan Muallaf
Bulan dan bintang tak dapat memaksaku kali ini untuk mengatakan keindahannya. Bahkan malam dingin ini sekali pun. Aku tak mampu mempotesnya, kumpulan kata dalam gudang kata telah habis.
Entah dari mana harus memulainya. Apakah dari kursi hijau ini? Atau dari silaunya sinar lampu neon. Entahlah, segalanya di mulai dari senja yang merambat gelap. Seiring angin malam berhembus sendu, dari balik rumput liar jangkrik dan katak kembali bersenandung.
Cerita berawal di sini
“ Kemanakah aku harus berlindung ?”, teriaknya seakan menggema di angkasa yang seakan mengamuk. Tapi saying tak ada jawaban, hanya suara angin yang semakin kencang berputar di udara. “
Bismillahirahmanirrahim…..Alhamdulillahirrabiallamin…………Waladdollin….Amiiiiiiin”. Seketika suara menggema entah dari mana, perlahan dan sangat perlahan dibelahan awan lain nampak Alquran menggantung di langit.
Senin, 23 mei 2009
Mimpi semalam begitu menggemparkan seluruh sel-sel dalam darah jiwa, mengundang Tanya, apa yang harus diperbuat? Enam hari berikutnya kejadian semakin nyata, berulang dan terus berulang. Hingga kalimat dalam setiap mimpi itu membuat hafal secara fasih.
Ibadah minggu ini berjalan seperti biasa, tapi terasa hambar. Kosentrasi akhir-akhir ini buyar, semua terasa salah, ada yang lain. Ibadah-ibadah selanjutnya membuatku enggan dan semakin terasa hampa. Papa, mama, adik, dan kakak yang begitu dekat dihati, tapi kini begitu asing dipikirkan. Mereka Nampak begitu berbeda sejak malam-malam itu. Tak ada lagi simbol-simbol ketuhanan melekat yang sejak kecil mengikat dilehernndan pergelangan tangan.
Senin, 5 juli 2009
Hari ini,, tepatnya siang ini di suatu meja disuatu bank, duduk seorang gadis yang entah apa, bekerja tanpa sadar. Dia adalah aku yang terus mengerayangi keyboard di depan computer. Tangan-tangan terlatih tak putus-putusnya melentik dari huruf ke huruf, hingga………….
“Lia mau kemana kamu nak?”, tiba-tiba suara mama terdengar dan dalam baying Nampak. Natalia kecil berlari menuju rumah meninggalkan mama dan papa yang sedang berbincang diteras.
“Hari sudah magrib, ma!”, sementara adzan magrib memukul-mukul relung jiwa, di dada ini, di dalam kamar begitu jelas suaranya, memebuatku tenang sesaat. Rasa ini mengingatkan di suatu pagi di hari lebaran dimana takbir bersahut-sahutan. Menyanyikan kesenangan yang asing bagi diri saaat itu. Serta lambaian tangan sepermainanku saat berjalan menuju lapangan shalat.
Tiba-tiba kembali berganti, kabur semua kabur. perlahan sebuah kubah Nampak melengkung. Seseorang yang sangat ku kenal dalam busana yang aneh, sedang berkata-kata dalam bahasa yang ingin kudengar. Di depannya hanya sebuah Alquran dan seseorang yang memakai jubah putih, juga berkata-kata dalam bahasa yang ku kenal
Apakah itu aku….? Natalia ? apakah itu aku berkerusung….? Semua tiba-tiba kembali tersadar, computer, keyboard, meja, dan wajah-wajah serius di depan computer. Apa yang telah terjadi?
Kamis, 11 Juni 2009
Kejadian siang itu adalah jawaban mengapa aku harus berada di tempat ini. Tempat yang selama ini hanya dapat terbayangkan. Kubah putih berjendela lebar, rasa sejuk seketika merasuk jauh dalam tulang sum-sum. Belum sempat kukagumi rasa lapang ini, tatapan penuh kasih menyambut. Dengan sabar dirapikannya peci putih, syal putih, serta baju koko putihnya. Tak ada Tanya yang keluar dari mulutnya, dengan halus dipersilahkannya aku masuk. Sekan-akan akulah tamu yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Dejavu seketika menghinggapiku, sepertinya kejasian ini hanya ulangan dari mimpi siang tadi.
Diajaknya aku ke tempat wudhu, dan semua mengalir seperti air dingin diwajah serta telapak tanganku seakan mewujudkan mimpi-mimpi aneh selama ini. hati sudah bulat, ini adalah petujuk meski asing bagiku maupun seluruh keluargaku yang tak akan mungkin setuju atas semua ini.
Disini aku duduk dihadapanya, melafalkan kalimat-kalimat dalamm kakuan…’Dua Kalimat Syahadat’ akhirnya dapat juga kulafalkan seakan pernah ku ucapkan di kehidupan yang nyata.
Tampak dari kejauhan kakak memanggil dengan penuh kemarahan, serentak kai gelisah dan tergesah menghambur ke pintu membawa pulang kerudung pemberian yang mereka sebut sebagai ‘ mukkenah’. Berlari hingga bersembunyi dalam kamar kos yang berukuran 4x6 meter. Di sinilah tempatku sembunyi dari kehidupan yang tak lagi kujalani oleh kaki-kaki keinsyafan serta tempat menyamaikan benih-benih doa juga kesolekan.
Rabu, 14 april 2010
Akibat dari penyimpangan yang ku lakukan sebutan dari mama dari apa yang telah ku lakukan. Namun bagiku pertobatan yang ku lakukan. Hari-hari yang telah ku pilih tak mudah untu ku lewati. Dunia seakan gelap, tak ada belaian mama, teguran papa atau canda tawa dari adik-kakakku. Mereka mengisolasi ruang gerakku dengan sedapat mungkin menghilang dari hadapanku yang baru. Telepon tak pernah dijawab, bahkan nomor ponsel pun diganti. Dan yang paling menyakitkan keluarga yang lain tak ada lagi yang mau kenal. Teringat kata mereka “siapa ya? Aku tak kenal!!” , saat berpapasan di tempat aku bekerja. Membuat jiwa semakin kecil dihadapan-NYA, tak terasa air mata jatuh mengenang dalam sajadah panjang.
Malam-malam hanya berganti malam, hanya shalat pengobat rindu pada mama, papa, kakak maupun adik. Di saat rindu merekah dan berbuah tangis, tahajjud adalah pelipur segalanya. Hingga adzan subuh memanggil.
A
Bacalah cerpen Berikut!
Kemalangan Muallaf
Bulan dan bintang tak dapat memaksaku kali ini untuk mengatakan keindahannya. Bahkan malam dingin ini sekali pun. Aku tak mampu mempotesnya, kumpulan kata dalam gudang kata telah habis.
Entah dari mana harus memulainya. Apakah dari kursi hijau ini? Atau dari silaunya sinar lampu neon. Entahlah, segalanya di mulai dari senja yang merambat gelap. Seiring angin malam berhembus sendu, dari balik rumput liar jangkrik dan katak kembali bersenandung.
Cerita berawal di sini
“ Kemanakah aku harus berlindung ?”, teriaknya seakan menggema di angkasa yang seakan mengamuk. Tapi saying tak ada jawaban, hanya suara angin yang semakin kencang berputar di udara. “
Bismillahirahmanirrahim…..Alhamdulillahirrabiallamin…………Waladdollin….Amiiiiiiin”. Seketika suara menggema entah dari mana, perlahan dan sangat perlahan dibelahan awan lain nampak Alquran menggantung di langit.
Senin, 23 mei 2009
Mimpi semalam begitu menggemparkan seluruh sel-sel dalam darah jiwa, mengundang Tanya, apa yang harus diperbuat? Enam hari berikutnya kejadian semakin nyata, berulang dan terus berulang. Hingga kalimat dalam setiap mimpi itu membuat hafal secara fasih.
Ibadah minggu ini berjalan seperti biasa, tapi terasa hambar. Kosentrasi akhir-akhir ini buyar, semua terasa salah, ada yang lain. Ibadah-ibadah selanjutnya membuatku enggan dan semakin terasa hampa. Papa, mama, adik, dan kakak yang begitu dekat dihati, tapi kini begitu asing dipikirkan. Mereka Nampak begitu berbeda sejak malam-malam itu. Tak ada lagi simbol-simbol ketuhanan melekat yang sejak kecil mengikat dilehernndan pergelangan tangan.
Senin, 5 juli 2009
Hari ini,, tepatnya siang ini di suatu meja disuatu bank, duduk seorang gadis yang entah apa, bekerja tanpa sadar. Dia adalah aku yang terus mengerayangi keyboard di depan computer. Tangan-tangan terlatih tak putus-putusnya melentik dari huruf ke huruf, hingga………….
“Lia mau kemana kamu nak?”, tiba-tiba suara mama terdengar dan dalam baying Nampak. Natalia kecil berlari menuju rumah meninggalkan mama dan papa yang sedang berbincang diteras.
“Hari sudah magrib, ma!”, sementara adzan magrib memukul-mukul relung jiwa, di dada ini, di dalam kamar begitu jelas suaranya, memebuatku tenang sesaat. Rasa ini mengingatkan di suatu pagi di hari lebaran dimana takbir bersahut-sahutan. Menyanyikan kesenangan yang asing bagi diri saaat itu. Serta lambaian tangan sepermainanku saat berjalan menuju lapangan shalat.
Tiba-tiba kembali berganti, kabur semua kabur. perlahan sebuah kubah Nampak melengkung. Seseorang yang sangat ku kenal dalam busana yang aneh, sedang berkata-kata dalam bahasa yang ingin kudengar. Di depannya hanya sebuah Alquran dan seseorang yang memakai jubah putih, juga berkata-kata dalam bahasa yang ku kenal
Apakah itu aku….? Natalia ? apakah itu aku berkerusung….? Semua tiba-tiba kembali tersadar, computer, keyboard, meja, dan wajah-wajah serius di depan computer. Apa yang telah terjadi?
Kamis, 11 Juni 2009
Kejadian siang itu adalah jawaban mengapa aku harus berada di tempat ini. Tempat yang selama ini hanya dapat terbayangkan. Kubah putih berjendela lebar, rasa sejuk seketika merasuk jauh dalam tulang sum-sum. Belum sempat kukagumi rasa lapang ini, tatapan penuh kasih menyambut. Dengan sabar dirapikannya peci putih, syal putih, serta baju koko putihnya. Tak ada Tanya yang keluar dari mulutnya, dengan halus dipersilahkannya aku masuk. Sekan-akan akulah tamu yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Dejavu seketika menghinggapiku, sepertinya kejasian ini hanya ulangan dari mimpi siang tadi.
Diajaknya aku ke tempat wudhu, dan semua mengalir seperti air dingin diwajah serta telapak tanganku seakan mewujudkan mimpi-mimpi aneh selama ini. hati sudah bulat, ini adalah petujuk meski asing bagiku maupun seluruh keluargaku yang tak akan mungkin setuju atas semua ini.
Disini aku duduk dihadapanya, melafalkan kalimat-kalimat dalamm kakuan…’Dua Kalimat Syahadat’ akhirnya dapat juga kulafalkan seakan pernah ku ucapkan di kehidupan yang nyata.
Tampak dari kejauhan kakak memanggil dengan penuh kemarahan, serentak kai gelisah dan tergesah menghambur ke pintu membawa pulang kerudung pemberian yang mereka sebut sebagai ‘ mukkenah’. Berlari hingga bersembunyi dalam kamar kos yang berukuran 4x6 meter. Di sinilah tempatku sembunyi dari kehidupan yang tak lagi kujalani oleh kaki-kaki keinsyafan serta tempat menyamaikan benih-benih doa juga kesolekan.
Rabu, 14 april 2010
Akibat dari penyimpangan yang ku lakukan sebutan dari mama dari apa yang telah ku lakukan. Namun bagiku pertobatan yang ku lakukan. Hari-hari yang telah ku pilih tak mudah untu ku lewati. Dunia seakan gelap, tak ada belaian mama, teguran papa atau canda tawa dari adik-kakakku. Mereka mengisolasi ruang gerakku dengan sedapat mungkin menghilang dari hadapanku yang baru. Telepon tak pernah dijawab, bahkan nomor ponsel pun diganti. Dan yang paling menyakitkan keluarga yang lain tak ada lagi yang mau kenal. Teringat kata mereka “siapa ya? Aku tak kenal!!” , saat berpapasan di tempat aku bekerja. Membuat jiwa semakin kecil dihadapan-NYA, tak terasa air mata jatuh mengenang dalam sajadah panjang.
Malam-malam hanya berganti malam, hanya shalat pengobat rindu pada mama, papa, kakak maupun adik. Di saat rindu merekah dan berbuah tangis, tahajjud adalah pelipur segalanya. Hingga adzan subuh memanggil.
A
12.Wacana
Wacana diartikan secara sederhana oleh Poerwadarminta sebagai ucapan, percakapan. Harimurti Kridalaksana dalam kamus linguistik, wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1983). Waccana itu sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara secara teratur, sistematis dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Berdasarkan pengertian wacana, ciri-ciri dan sifat wacana dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Wacana dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur,
2. Wacana mengungkapkan suatu hal (subjek),
3. Penyajiannya teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya,
4. Wacana memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu,
5. Wacana dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental
Berdasarkan analisisnya, ciri-ciri dan sifat wacana adalah sebagai berikut:
1) Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat (rule of use-menurut Widdowson),
2) Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks dan situasi (Firth),
3) Analisis wacana pemahaman rangkaian tuturam melalui interpretasi semantik (Beller),
4) Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (Labor),
5) Analisis wacana diarahkan pada masalah memakai bahasa fungsional (Coulthard)
Ciri-ciri dasar lain
1. Analisis wacana bersifat interpretasi pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya,
2. Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap kontteks dan pengetahuan yang luas,
3. Semua unsur yang terkandung di dalam wacana di analisis sebagai suatu rangkaian,
4. Wujud bahasa dalam itu lebih jelas karena di dukung oleh situasi yang tepat,
5. Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan dan lain-lain.
Wujud dan jenis wacana
Segi realitas
Sebagai media komunikasi
Segi penyusunan
• Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau III) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.
• Wacana prosedural adalah rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya karena urgensi unsur yang lebih dahulu menjadi landasan unsur yang berikutnya.
• Wacana hortatorik adalah tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasehat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan atau agar lebih menyakinkan, sedangkan tokoh penting di dalamnya adalah orang II.
• Wacana eksporitorik adalah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Tujuannya adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekedar ebuaha pernyataan yang bersifat global atau umum.
• Wacana deskriptip adalah rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.
Konteks wacana
1. Latar
2. Peserta
3. Hasil
4. Amanat
5. Cara
6. Sarana
7. Norma
8. Jenis
Wacana diartikan secara sederhana oleh Poerwadarminta sebagai ucapan, percakapan. Harimurti Kridalaksana dalam kamus linguistik, wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1983). Waccana itu sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara secara teratur, sistematis dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Berdasarkan pengertian wacana, ciri-ciri dan sifat wacana dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Wacana dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur,
2. Wacana mengungkapkan suatu hal (subjek),
3. Penyajiannya teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya,
4. Wacana memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu,
5. Wacana dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental
Berdasarkan analisisnya, ciri-ciri dan sifat wacana adalah sebagai berikut:
1) Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat (rule of use-menurut Widdowson),
2) Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks dan situasi (Firth),
3) Analisis wacana pemahaman rangkaian tuturam melalui interpretasi semantik (Beller),
4) Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (Labor),
5) Analisis wacana diarahkan pada masalah memakai bahasa fungsional (Coulthard)
Ciri-ciri dasar lain
1. Analisis wacana bersifat interpretasi pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya,
2. Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap kontteks dan pengetahuan yang luas,
3. Semua unsur yang terkandung di dalam wacana di analisis sebagai suatu rangkaian,
4. Wujud bahasa dalam itu lebih jelas karena di dukung oleh situasi yang tepat,
5. Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan dan lain-lain.
Wujud dan jenis wacana
Segi realitas
Sebagai media komunikasi
Segi penyusunan
• Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau III) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.
• Wacana prosedural adalah rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya karena urgensi unsur yang lebih dahulu menjadi landasan unsur yang berikutnya.
• Wacana hortatorik adalah tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasehat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan atau agar lebih menyakinkan, sedangkan tokoh penting di dalamnya adalah orang II.
• Wacana eksporitorik adalah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Tujuannya adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekedar ebuaha pernyataan yang bersifat global atau umum.
• Wacana deskriptip adalah rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.
Konteks wacana
1. Latar
2. Peserta
3. Hasil
4. Amanat
5. Cara
6. Sarana
7. Norma
8. Jenis
11. KOLOPE, MAKANAN UNIK KHAS MUNA
Muna merupakan salah satu pulau yang ada di Sulawesi Tenggara yang memiliki banyak kebudayaan, cerita dan lain sebagainya. Di Muna, juga memiliki makanan khas tradisional di antaranya, kambuse, ubi jalar, umbi keladi, umbi talas, kabuto dan kolope. Di antara makanan khas ini, kolope merupakan makanan yang sangat unik. Terutama pada proses pengolahan sebelum menjadi bahan makanan.
Kolope merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian yang memiliki daun yang lebar, batangnya yang berduri dan umbinya besar berbulu. Bagi orang tua, kolope merupakan makanan pokok sehari-hari. Menghadapi krisis moneter dan jenis makanan apalagi jajanan, kolope bisa juga dijadikan sebagai makanan ringan teman bicara yakni kerupuk manis kolope.
Keunikan kolope, dapat dilihat berdasarkan cerita secara turun temurun, kolope (ubi gadung) pernah mengeluarkan kutukan bahwa “Andai akan ada manusia yang memerlukan untuk memakanku, demi langit, ia akan mati berkeping-keping, ia akan muntah, dan mulutnya akan berbuih. Kecuali kalau dia harus bersusah payah terlebih dahulu, menggaliku, mengupas kulitku, dan mengiris tipis-tipis dagingku. Lalu, menjemur, merendam, dan menginjak-injakku di dalam air mengalir selama empat hari empat malam. Niscaya, jika aku tidak diperlakukan demikian, aku tidak pernah bisa dimakan oleh manusia.”
Sehabis berkata demikian, tanpa pamit, kolope langsung berdiri dan pergi. Sejak saat itulah kolope tidak lagi tinggal di dalam kebun manusia. Ia hidup di hutan. Apabila ada orang yang memakannya pasti ia akan muntah-muntah dan kemudian mati. Dari cerita inilah maka kolope memiliki beberapa tahap pengolahan sebelum dimakan, sebagaimana kutukan dalam cerita di atas, kecuali kalau ia dikerjai dulu, direndam, diinjak-injak dalam air kali yang mengalir, dan di jemur, barulah ia dapat di makan. Di sinilah awal para orang tua terdahulu mempercayai bahwa kolope tidak dapat diolah langsung menjadi bahan makanan seperti beras atau jagung dan jenis umbi-umbian lainnya. Setelah dikerjai, direndam, dan diinjak-injak dalam air kali kemudian dijemur selama empat hari empat malam, kolope bisa dikonsumsi.
Memasak kolope terlebih dahulu dikukus dan diberi kelapa parut. Kelapa parut dipercaya dapat menghilangkan zat yang memabukkan pada kolope. Jika tidak bagus cara memasaknya, dalam artian tidak masak dengan baik, maka ada kemungkinan akan muncul efek mabuk pada orang yang mengonsumsi kolope tersebut. Zat memabukkan inilah yang ditakuti para konsumen kolope. Namun demikian, kolope tetap merupakan makanan yang enak, terlebih lagi jika dimakan dengan lauk kansialo ( ikan kering ) dan sayur bening.
Muna merupakan salah satu pulau yang ada di Sulawesi Tenggara yang memiliki banyak kebudayaan, cerita dan lain sebagainya. Di Muna, juga memiliki makanan khas tradisional di antaranya, kambuse, ubi jalar, umbi keladi, umbi talas, kabuto dan kolope. Di antara makanan khas ini, kolope merupakan makanan yang sangat unik. Terutama pada proses pengolahan sebelum menjadi bahan makanan.
Kolope merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian yang memiliki daun yang lebar, batangnya yang berduri dan umbinya besar berbulu. Bagi orang tua, kolope merupakan makanan pokok sehari-hari. Menghadapi krisis moneter dan jenis makanan apalagi jajanan, kolope bisa juga dijadikan sebagai makanan ringan teman bicara yakni kerupuk manis kolope.
Keunikan kolope, dapat dilihat berdasarkan cerita secara turun temurun, kolope (ubi gadung) pernah mengeluarkan kutukan bahwa “Andai akan ada manusia yang memerlukan untuk memakanku, demi langit, ia akan mati berkeping-keping, ia akan muntah, dan mulutnya akan berbuih. Kecuali kalau dia harus bersusah payah terlebih dahulu, menggaliku, mengupas kulitku, dan mengiris tipis-tipis dagingku. Lalu, menjemur, merendam, dan menginjak-injakku di dalam air mengalir selama empat hari empat malam. Niscaya, jika aku tidak diperlakukan demikian, aku tidak pernah bisa dimakan oleh manusia.”
Sehabis berkata demikian, tanpa pamit, kolope langsung berdiri dan pergi. Sejak saat itulah kolope tidak lagi tinggal di dalam kebun manusia. Ia hidup di hutan. Apabila ada orang yang memakannya pasti ia akan muntah-muntah dan kemudian mati. Dari cerita inilah maka kolope memiliki beberapa tahap pengolahan sebelum dimakan, sebagaimana kutukan dalam cerita di atas, kecuali kalau ia dikerjai dulu, direndam, diinjak-injak dalam air kali yang mengalir, dan di jemur, barulah ia dapat di makan. Di sinilah awal para orang tua terdahulu mempercayai bahwa kolope tidak dapat diolah langsung menjadi bahan makanan seperti beras atau jagung dan jenis umbi-umbian lainnya. Setelah dikerjai, direndam, dan diinjak-injak dalam air kali kemudian dijemur selama empat hari empat malam, kolope bisa dikonsumsi.
Memasak kolope terlebih dahulu dikukus dan diberi kelapa parut. Kelapa parut dipercaya dapat menghilangkan zat yang memabukkan pada kolope. Jika tidak bagus cara memasaknya, dalam artian tidak masak dengan baik, maka ada kemungkinan akan muncul efek mabuk pada orang yang mengonsumsi kolope tersebut. Zat memabukkan inilah yang ditakuti para konsumen kolope. Namun demikian, kolope tetap merupakan makanan yang enak, terlebih lagi jika dimakan dengan lauk kansialo ( ikan kering ) dan sayur bening.
10. CONTOH RPP DAN BAHAN AJAR
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SEKOLAH : SMA Kartika Kendari
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1
ALOKASI WAKTU : 2 x 45 Menit
STANDAR KOMPETENSI
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
KOMPETENSI DASAR
Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
INDIKATOR
Kognitif
Proses
Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Produk
Membedakan jenis puisi lama
Menemukan bait, rima, dan irama di dalam puisi lama
Psikomotor
Mampu menulis puisi lama
Afektif
Karakter
Teliti
Tekun
Keterampilan sosial
Mampu membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman
TUJUAN PEMBELAJARAN
Kognitif
Proses
Setelah menulis puisi lama siswa diharapkan mampu:
Mengidentifikasi jenis puisi lama
Mengidentifikasi banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
Produk
Setelah menulis puisi lama, siswa diharapkan mampu:
Menentukan jenis puisi lama
Menentukan banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
Psikomotor
Setelah mempelajari dan berlatih menguasai hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan mampu:
Menuliskan puisi lama
Membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman
Afektif
Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti ketelitian dan ketekunan.
Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kemampuan menuliskan puisi lama dan keterampilan menyampaikan hasil tulisan dengan bahasa yang baik dan benar di hadapan teman-teman.
MATERI PEMBELAJARAN
Membedakan jenis-jenis puisi lama
Mennetukan bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit)
Metode pembelajaran
Unjuk kerja
Penugasan
BAHAN
Lembar kerja
Spidol
ALAT
Teks Puisi Lama
SKENARIO PEMBELAJARAN
NO Kegiatan Penilaian Pengamat
1 2 3 4
Pertemuan I
A1 Kegiatan awal (10 menit)
Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
Guru memberi motivasi kepada siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang hal-hal pokok, hal menarin, dan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen.
Kegiatan inti (25 menit)
Siswa secara bersama-sama membaca materi tentang puisi lama.
Guru memberi penjelasan tentang materi yang telah ditentukan.
Siswa membaca contoh puisi lama.
Secara individu siswa menuliskan contoh puisi lama.
Tiap-tiap siswa bersiap untuk membacakan puisi lama yang telah dituliskannya.
Siswa lain mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh temannya.
C1 Kegiatan akhir (10 menit)
Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini.
Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.
SUMBER PEMBELAJARAN
Buku: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X
Materi Esensial Bahasa Indonesia
Silabus
EVALUASI DAN PENILAIAN
Evaluasi
Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam menggarap tugas.
Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengamatan unjuk keterampilan.
Penilaian
Tugas Individu
LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
LKS 1: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
Kegiatan 1
Sebutkan jenis-jenis puisi lama yang kamu ketahui!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Sebutkan ciri-ciri dari puisi lama yang kamu kemukakan diatas!
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LKS 2: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
Kegiatan 2
Tuliskanlah lima contoh pantun, kemudian identifikasi banyak bait, jenis rima dan irama dari pantun yang kamu buat!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
Hakikat Puisi Lama
Puisi adalah ungkapan imajinatif yang dirangkai dengan irama dan memperhatikan pemaknaan. Jauh sebelum kita mengenal puisi komtemporer masa kini, dulu puisi telah banyak dibuat dengan berbagai bentuk dan kaidah, yaitu puisi lama. Puisi lama berbeda dengan puisi baru. Menurut Alisjahbana puisi lama adalah bagian dari kebudayaan lama yang dipancarkan oleh masyarakat lama.
Bentuk-bentuk puisi lama:
Syair, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu bait. Baris pertama hingga terakhir pada syair berima a-a-a-a.
Contoh:
Sengsara gerangan takdirnya untung (a)
Sebagai nasib si bunga betung (a)
Hanyut di sungai terkatung-katung (a)
Diejekkan kera dan lutung (a)
2. Karmina, yakni sajak yang terdiri atas dua baris saja. Umumnya berisi sindiran atau gurauan.
Contoh:
Kayu lurus dalam ladang
Kerbau kurus banyak tulang
3. Pantun, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu baitnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris yang ketiga dan keempat adalah isi. Pantun menggunakan rima a-b-a-b. Pantun memiliki banyak jenis, seperti pantun berkasih-kasihan, pantun jenaka, pantun agama, pantun perdagangan, pantun berduka, dan lain-lain.
4. Talibun, sebenarnya dapat dikategorikan dengan pantun, jika pantun hanya terdiri dari empat baris, talibun memiliki lebih dari empat baris.
5. Gurindam, yaitu puisi lama yang isi dan temanya tak berbeda dengan pantun, karena kebanyakan berisi nasihat dan mendidik.
Bait, Irama, dan Rima
1. Bait
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bait adalah satu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Fungsi bait adalah membagi puisi menjadi bab-bab pendek.
2. Irama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2003: 442), irama adalah alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi.
3. Rima
Rima adalah persamaan atau perulangan bunyi (Wiyanto, 2005: 29).
Jenis-Jenis Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris
LEMBAR PENILAIAN
(LP)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
LP 1 : KOGNITIF PROSES
Pedoman Penskoran LKS 1
No Komponen Deskriptor Skor
1 2 3
1 Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
Siswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
2
Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Siswa mampu mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 2 : KOGNITIF PRODUK
Pedoman Penskoran LKS 2
No Komponen Deskriptor Skor
1 2 3
1 Menentukan jenis-jenis puisi lama
Siswa mampu menentukan jenis-jenis puisi lama
2
Menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Siswa mampu menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 3 : PSIKOMOTOR
Pedoman Penskoran LKS 2
No Komponen Deskriptor Skor Catatan
1
Menuliskan puisi lama
Siswa mampu menulis beberapa jenis puisi lama
3
2
1
2
Mampu membacakan puisi yang dibuat dengan kriteria:
Suara
Lafal
Intonasi
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
3
2
1
3
2
1
3
2
1
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 4 : AFEKTIF (KARAKTER)
No Karakter Skor Total
Tanggung Jawab Disiplin Ketekunan Kreatif Kritis
1 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
7 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
8 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
9 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
10 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
11 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
12 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
13 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
14 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
17 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
18 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
19 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
20 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
21 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
22 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
23 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
24 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
25 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
26 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
27 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
28 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
29 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
30 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
31 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
32 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
33 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
34 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
35 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
36 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
37 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
38 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
39 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
40 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Keterangan
4 = sangat baik 2 = kurang baik
3 = baik 1 = tidak baik
LP 5 : AFEKTIF (KECAKAPAN SOSIAL)
No Karakter Skor Total
Inisiatif Berbahasa Santun dan Komunikatif Partisipasi
1 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
7 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
8 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
9 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
10 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
11 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
12 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
13 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
14 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
17 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
18 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
19 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
20 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
21 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
22 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
23 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
24 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
25 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
…
Keterangan
4 = sangat baik 2 = kurang baik
3 = baik 1 = tidak baik
Kendari,13 Desember 2011
Mengetahui,
Guru Pamong Mahasiswa KKP-PPL
Nur Niati, S.Pd Eka Cahyowati
Menyetujui,
Kepala Sekolah
Drs. H. N.P Dahlan
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SEKOLAH : SMA Kartika Kendari
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1
ALOKASI WAKTU : 2 x 45 Menit
STANDAR KOMPETENSI
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
KOMPETENSI DASAR
Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
INDIKATOR
Kognitif
Proses
Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Produk
Membedakan jenis puisi lama
Menemukan bait, rima, dan irama di dalam puisi lama
Psikomotor
Mampu menulis puisi lama
Afektif
Karakter
Teliti
Tekun
Keterampilan sosial
Mampu membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman
TUJUAN PEMBELAJARAN
Kognitif
Proses
Setelah menulis puisi lama siswa diharapkan mampu:
Mengidentifikasi jenis puisi lama
Mengidentifikasi banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
Produk
Setelah menulis puisi lama, siswa diharapkan mampu:
Menentukan jenis puisi lama
Menentukan banyak bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
Psikomotor
Setelah mempelajari dan berlatih menguasai hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan mampu:
Menuliskan puisi lama
Membacakan hasil tulisan di hadapan teman-teman
Afektif
Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti ketelitian dan ketekunan.
Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kemampuan menuliskan puisi lama dan keterampilan menyampaikan hasil tulisan dengan bahasa yang baik dan benar di hadapan teman-teman.
MATERI PEMBELAJARAN
Membedakan jenis-jenis puisi lama
Mennetukan bait, rima, dan irama yang terdapat di dalam puisi lama
MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit)
Metode pembelajaran
Unjuk kerja
Penugasan
BAHAN
Lembar kerja
Spidol
ALAT
Teks Puisi Lama
SKENARIO PEMBELAJARAN
NO Kegiatan Penilaian Pengamat
1 2 3 4
Pertemuan I
A1 Kegiatan awal (10 menit)
Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
Guru memberi motivasi kepada siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang hal-hal pokok, hal menarin, dan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen.
Kegiatan inti (25 menit)
Siswa secara bersama-sama membaca materi tentang puisi lama.
Guru memberi penjelasan tentang materi yang telah ditentukan.
Siswa membaca contoh puisi lama.
Secara individu siswa menuliskan contoh puisi lama.
Tiap-tiap siswa bersiap untuk membacakan puisi lama yang telah dituliskannya.
Siswa lain mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh temannya.
C1 Kegiatan akhir (10 menit)
Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini.
Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.
SUMBER PEMBELAJARAN
Buku: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X
Materi Esensial Bahasa Indonesia
Silabus
EVALUASI DAN PENILAIAN
Evaluasi
Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam menggarap tugas.
Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengamatan unjuk keterampilan.
Penilaian
Tugas Individu
LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
LKS 1: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
Kegiatan 1
Sebutkan jenis-jenis puisi lama yang kamu ketahui!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Sebutkan ciri-ciri dari puisi lama yang kamu kemukakan diatas!
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LKS 2: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
Kegiatan 2
Tuliskanlah lima contoh pantun, kemudian identifikasi banyak bait, jenis rima dan irama dari pantun yang kamu buat!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
Hakikat Puisi Lama
Puisi adalah ungkapan imajinatif yang dirangkai dengan irama dan memperhatikan pemaknaan. Jauh sebelum kita mengenal puisi komtemporer masa kini, dulu puisi telah banyak dibuat dengan berbagai bentuk dan kaidah, yaitu puisi lama. Puisi lama berbeda dengan puisi baru. Menurut Alisjahbana puisi lama adalah bagian dari kebudayaan lama yang dipancarkan oleh masyarakat lama.
Bentuk-bentuk puisi lama:
Syair, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu bait. Baris pertama hingga terakhir pada syair berima a-a-a-a.
Contoh:
Sengsara gerangan takdirnya untung (a)
Sebagai nasib si bunga betung (a)
Hanyut di sungai terkatung-katung (a)
Diejekkan kera dan lutung (a)
2. Karmina, yakni sajak yang terdiri atas dua baris saja. Umumnya berisi sindiran atau gurauan.
Contoh:
Kayu lurus dalam ladang
Kerbau kurus banyak tulang
3. Pantun, yaitu sajak yang terdiri atas empat baris dalam satu baitnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris yang ketiga dan keempat adalah isi. Pantun menggunakan rima a-b-a-b. Pantun memiliki banyak jenis, seperti pantun berkasih-kasihan, pantun jenaka, pantun agama, pantun perdagangan, pantun berduka, dan lain-lain.
4. Talibun, sebenarnya dapat dikategorikan dengan pantun, jika pantun hanya terdiri dari empat baris, talibun memiliki lebih dari empat baris.
5. Gurindam, yaitu puisi lama yang isi dan temanya tak berbeda dengan pantun, karena kebanyakan berisi nasihat dan mendidik.
Bait, Irama, dan Rima
1. Bait
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bait adalah satu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Fungsi bait adalah membagi puisi menjadi bab-bab pendek.
2. Irama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2003: 442), irama adalah alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi.
3. Rima
Rima adalah persamaan atau perulangan bunyi (Wiyanto, 2005: 29).
Jenis-Jenis Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris
LEMBAR PENILAIAN
(LP)
BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1
Standar Kompetensi
Menulis : 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
Oleh:
LP 1 : KOGNITIF PROSES
Pedoman Penskoran LKS 1
No Komponen Deskriptor Skor
1 2 3
1 Mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
Siswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis puisi lama
2
Mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Siswa mampu mengidentifikasi banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 2 : KOGNITIF PRODUK
Pedoman Penskoran LKS 2
No Komponen Deskriptor Skor
1 2 3
1 Menentukan jenis-jenis puisi lama
Siswa mampu menentukan jenis-jenis puisi lama
2
Menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Siswa mampu menentukan banyak bait, irama, dan rima dari puisi lama
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 3 : PSIKOMOTOR
Pedoman Penskoran LKS 2
No Komponen Deskriptor Skor Catatan
1
Menuliskan puisi lama
Siswa mampu menulis beberapa jenis puisi lama
3
2
1
2
Mampu membacakan puisi yang dibuat dengan kriteria:
Suara
Lafal
Intonasi
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
Sangat jelas
Kurang jelas
Tidak jelas
3
2
1
3
2
1
3
2
1
Keterangan:
(3) sangat tepat
(2) tepat
(1) tidak tepat
Cara Pemberian Nilai
Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100
LP 4 : AFEKTIF (KARAKTER)
No Karakter Skor Total
Tanggung Jawab Disiplin Ketekunan Kreatif Kritis
1 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
7 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
8 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
9 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
10 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
11 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
12 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
13 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
14 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
17 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
18 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
19 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
20 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
21 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
22 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
23 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
24 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
25 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
26 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
27 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
28 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
29 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
30 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
31 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
32 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
33 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
34 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
35 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
36 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
37 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
38 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
39 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
40 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Keterangan
4 = sangat baik 2 = kurang baik
3 = baik 1 = tidak baik
LP 5 : AFEKTIF (KECAKAPAN SOSIAL)
No Karakter Skor Total
Inisiatif Berbahasa Santun dan Komunikatif Partisipasi
1 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
7 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
8 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
9 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
10 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
11 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
12 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
13 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
14 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
17 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
18 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
19 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
20 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
21 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
22 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
23 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
24 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
25 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
…
Keterangan
4 = sangat baik 2 = kurang baik
3 = baik 1 = tidak baik
Kendari,13 Desember 2011
Mengetahui,
Guru Pamong Mahasiswa KKP-PPL
Nur Niati, S.Pd Eka Cahyowati
Menyetujui,
Kepala Sekolah
Drs. H. N.P Dahlan
Langganan:
Postingan (Atom)